KREATIVITAS
ANAK USIA DINI DALAM BERMAIN PLASTISIN
DISUSUN OLEH
1.
Elsya Tantri Mayangsari (13514531)
2.
Febriana
Ramadhanti (14514115)
3.
Herdini
Avianti Asri (14514931)
4.
Moranova
(16514842)
5.
Saniya
Nabila (19514998)
1PA06
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis limpahkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas rahmat dan pertolongan-Nya,
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Kreativitas Anak Usia Dini dalam Bermain Plastisin ini tepat pada
waktunya.
Makalah ini disusun untuk melengkapi nilai tugas matakuliah Pengembangan
Kreativitas dan Keberbakatan dalam semester kedua tahun ajaran 2014/2015.
Selain itu, penulis ingin berbagi mengenai kreativitas yang dimiliki oleh
kelompok bermain di desa Cikaret dalam bermain plastisin.
Untuk menyelesaikan makalah ini adalah suatu hal yang
mustahil apabila penulis tidak mendapatkan bantuan dan kerjasama dari berbagai
pihak. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua
pihak baik
secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu penulis hingga terselesaikannya makalah ini.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, tapi penulis berharap
semoga makalah ini bermanfaat
bagi pembaca. Penulis menerima saran yang membangun guna perbaikan karya tulis
selanjutnya.
Depok, Agustus 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
………………..............................................................................................i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………..…….ii
DAFTAR GRAFIK
………………………………………………………………………………iv
BAB I PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang ………………………………………………………………………….…....1
I.2 Rumusan Masalah ……………………………………..……………………..........................3
I.3 Tujuan Penelitian …..................................................................................................................4
I.4
Manfaat Penelitian ……………………………………………………………………………4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
II.1
Kajian Teoritis ……………………………..……………………………….....…………......5
II.1.1 Konsep Kreativitas
……………………………………………………………………5
II.1.2 Bermain Plastisin
……………………………………………………………………..6
II.1.3 Hubungan Antara
Kreativitas dengan Plastisin ………………………………………7
II.2
Kajian Penelitian yang Relevan ……...…………….………………………………………...8
II.3 Hipotesis Tindakan ………..………………………...…………………………………..…...9
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Desain Penelitian
…………………………………………………………………………...10
III.2 Ruang Lingkup Penelitian
………………………………………………………………….10
III.2.1 Subjek Penelitian ……………………………………………………………………10
III.2.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ………………………………………………………..10
III.3 Data dan Sumber Data
……………………………………………………………………...11
III.3.1 Data ………………………………………………………………………………….11
III.3.2 Sumber Data ………………………………………………………………………...11
III.4 Teknik Pengumpulan Data
…………………………………………………………………11
III.5 Teknik Analisis Data
……………………………………………………………………….11
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Penelitian
……………………………………………………………………………..13
IV.2 Pembahasan ………………………………………………………………………………...14
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1
Kesimpulan ………………………………………………………………………………...16
V.2
Saran ……………………………………………………………………………………….16
DAFTAR PUSAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GRAFIK
Grafik IV.2.1 Peningkatan Kreativitas
Kelompok Bermain Anak Usia Dini Desa Cikaret ……..15
BAB I
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Kreativitas
merupakan salah satu faktor yang memiliki peran penting dalam kehidupan.
Melalui kreativitas, anak dapat berkreasi sesuai dengan bakat ataupun kemampuannya
dan dapat memecahkan suatu permasalahan serta dapat meningkatkan kualitas
hidupnya di masa yang akan datang. Hurlock (1987: 6) mengungkapkan bahwa
kreativitas dapat memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat
besar, penghargaan yang mempunyai pengaruh nyata terhadap perkembangan kepribadiannya.
Pada
dasarnya anak telah mempunyai potensi kreatif dalam dirinya sejak lahir. Namun
perlu adanya stimulus kembali lewat lingkungan sehingga perkembangan
kreativitas dapat meningkat. Devito (Supriadi, 1994: 15) menyatakan bahwa
setiap orang lahir dengan potensi kreatif walaupun tingkatnya berbeda-beda, dan
dapat dikembangkan dan dipupuk. Kreativitas seorang anak berawal dari rasa
ingin tahunya yang besar. Bakat kreatif tersebut dimiliki oleh semua orang
tanpa terkecuali dan bakat tersebut dapat ditingkatkan jika diasah sejak dini.
Namun jika bakat kreatif tersebut tidak diasah maka bakat itu tidak akan dapat
berkembang bahkan akan menjadi bakat terpendam yang tidak dapat diwujudkan.
Masa
anak adalah masa belajar yang potensial. Usia dini merupakan masa yang sering disebut “golden age”. Dikatakan golden age sebab pada usia ini tingkat
pertumbuhan dan perkembangan anak sangat cepat. Dengan demikian pada saat
inilah anak membutuhkan stimulus yang baik agar pertumbuhan dan perkembangan
anak dapat berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Namun, pengembangan
kemampuan kreativitas anak di Indonesia masih belum optimal. Hal tersebut
terbukti dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jellen dan Urban
(Supriadi, 1994: 84; Rachmawati dan Kurniati, 2005: 6) yang menunjukkan bahwa
Indonesia menempati posisi terendah dibandingkan 8 negara lainnya yaitu jauh
dibawah Filipina, Amerika Serikat, Inggris dan Jerman, India, Kamerun dan Zulu.
Perkembangan kreativitas pada anak
akan berkembang secara optimal jika diberikan stimulus yang tepat. Setiap
kegiatan anak harus dibuat menyenangkan, menarik perhatian anak, dan membuat
nyaman anak agar setiap proses menjadi lebih efektif. Salah satu metode yang dapat
memberikan kesenangan anak dan membuatnya menjadi kreatif adalah dengan
bermain.
Bermain
merupakan metode efektif untuk mengembangkan kreativitas anak (Rachmawati dan
Kurniati, 2005: 55). Moeslichateon (2004: 32) mengungkapkan bahwa melalui
kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreativitasnya yaitu melakukan
kegiatan yang mengandung kelenturan, memanfaatkan imajinasi dan ekspresi diri,
kegiatan-kegiatan pemecahan masalah dan lain-lain. Namun sayangnya, di zaman
serba modern saat ini, anak lebih sering bermain permainan yang ada di dalam gadgetnya dibandingkan permainan membentuk
sesuatu yang dapat melatih motorik anak seperti bermain lego dan lilin plastisin.
Menurut sebagian anak, bermain gadget lebih
menarik dan menyenangkan dibandingkan bermain lego dan lilin plastisin yang
mereka anggap kuno. Padahal menurut Rachmawati dan Kurniati (2005: 90),
pengembangan kreativitas dapat dilakukan melalui menciptakan produk (hasta
karya) salah satunya adalah dengan media playdough.
Media
playdough merupakan salah satu alat
permainan edukatif karena dapat mendorong imajinasi anak (Dwirosanty, 2008).
Media playdough akan membuat anak
lebih suka berkreasi untuk membuat atau menciptakan benda sesuai dengan
imajinasinya sehingga dapat mengembangkan kreativitasnya.
Pernyataan-pernyataan di atas dapat
diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Slamet (2009) diketahui
bahwa media plastisin dapat meningkatkan kreativitas anak di TK. Sejalan dengan
Slamet, Rohmah (2001) menyatakan bahwa ternyata dengan permainan edukatif
(plastisin) dapat meningkatkan kreativitas anak usia dini. Plastisin merupakan
media yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan playdough. Hanya saja tingkat elastisitas playdough sedikit berbeda dengan plastisin. Plastisin mempunyai
karakter cepat mengeras dibandingkan playdough.
Berdasarkan
uraian yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti memiliki ketertarikan untuk
memilih fokus penelitian pada “Kreativitas
Anak Usia Dini dalam Bermain Plastisin”.
I.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
“Bagaimana kreativitas anak usai dini dalam bermain plastisin?”
I.3
Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwa dengan cara bermain plastisin ini
dapat meningkatkan kreativitas anak.
I.4 Manfaat
Penelitian
Manfaat
yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
Bagi
bidang keilmuan Pendidikan Anak Usia Dini dapat memberikan sumbangan ilmiah
untuk meningkatkan kreativitas anak melalui penggunaan bermain plastisin.
2. Manfaat Praktis
a.
Bagi penulis, melalui penulisan ini dapat menambah
pengetahuan penulis mengenai kreativitas anak usia dini dalam bermain plastisin
dan dapat dikaji lebih dalam lagi.
b.
Bagi anak usia dini, melalui penelitian ini, siswa dapat
belajar menuangkan imajinasi sesuai dengan keingian tanpa takut salah dan dapat
termotivasi dalam belajar sehingga bisa meningkatkan prestasi belajarnya secara
optimal.
c. Bagi orang tua, penulisan ini
diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana untuk menambah pengetahuan mengenai
salah satu cara untuk mengasah kreativitas anak, yaitu dengan bermain
plastisin.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
II.1 Kajian Teoritis
II.1.1 Konsep Kreativitas
Munandar
(2012) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat
kombinasi-kombinasi baru, asosiasi baru berdasarkan bahan, informasi, data atau
elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan
bermanfaat. Sesuatu yang baru itu tidak harus baru sama sekali tetapi merupakan
kombinasi dari hal-hal sebelumnya yang sudah ada. Sedangkan yang dimaksud
dengan informasi, data atau elemen-elemen yang sudah ada itu adalah semua
pengalaman yang telah diperoleh semasa hidupnya baik.
Munandar mengungkapkan kreativitas
dalam penggunaan data dan informasi yang digunakan untuk menemukan banyak
kemungkinan banyak kemungkinan jawaban dalam suatu masalah, yang ditekankan
pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban. Munandar juga mengatakan
bahwa kreativitas sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan,
kemampuan memperinci, dan keaslian suatu gagasan atau pemikiran. Munandar
(dalam Akbar-Hawadi, 2001) menguraikan ciri-ciri kognitif (aptitude) dari
kreativitas, yaitu: (1) kelancaran berpikir, keterampilan dalam mencetuskan
banyak gagasan; (2) keluwesan berpikir, keterampilan menghasilkan gagasan yang
bervariasi; (3) keterampilan berpikir original, keterampilan dalam menghasilkan
gagasan yang baru dan unik; (4) keterampilan memperinci gagasan, keterampilan
dalam mengembangkan atau memperinci gagasan.
Menurut
Munandar (1999: 31) perlu adanya penekanan kreativitas yang dipupuk sejak dini,
hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di bawah ini :
a. Dengan
berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya.
b. Kreativitas
merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenihnya.
c. Kreativitas
atau berpikir kreatif sebagai suatu kemampuan untuk melihat bermacam-macam
kemungkinan penyelesaian suatu masalah.
d. Bersibuk
diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi dan lingkungannya
tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.
e. Kreativitas
memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya secara individu serta
kualitas hidup seluruh umat manusia.
II.1.2 Bermain Plastisin
Johnson
(1999, dalam Tedjasaputra, 2001) mengungkapkan bahwa istilah bermain merupakan
konsep yang tidak mudah untuk dijabarkan. Banyak pendapat berbeda tentang
pengertian bermain. Santrock (2007) mengatakan bahwa bermain adalah aktivitas
yang mennyenangkan yang dilakukan untuk bersenang-senang. Sedangkan menurut
KBBI, bermain adalah melakukan kegiatan untuk menyenangkan hati, dengan
menggunakan alat-alat tertentu maupun tidak.
Bermain konstruktif adalah kegiatan
dimana anak mencoba untuk membangun sesuatu, seperti benteng yang dibuat dari
balok atau gambar rumah yang dibuat dengan kertas dan pensil warna (Forman
& Hill, 1980; Forman, 1998; Scarlet, dkk, 2005). Bahan-bahan yang digunakan
untuk bermain konstruktif merupakan bahan yang dapat disatukan atau dibentuk
menjadi struktur baru seperti mainan balok, mainan pipa, ataupun plastisin.
Plastisin adalah media bermain
berupa adonan lunak yang mempunyai berbagai warna yang dapat dibuat menjadi
berbagai bentuk sesuai dengan keinginan kita. Bermain plastisin adalah
aktivitas yang mudah dan menyenangkan. Bermain plastisin dapat memberikan
kesenangan dan kepuasan pada anak-anak.
II.1.3 Hubungan antara Kreativitas dengan Plastisin
Plastisin dapat meningkatkan
kecerdasan gambar dan ruang sebab plastisin dapat dibuat menjadi bentuk-bentuk
sesuai dengan imajinasi anak.
Menurut Teori Primary Mental
Abilities yang dikemukakan oleh Thurstone dalam Yuliani Nuraini Sujiono, dkk
(2008: 1.7) berpendapat bahwa kognitif merupakan penjelasan dari kemampuan
primer yang salah satunya adalah pemahaman ruang (spatial factors).
Selain
itu, kreativitas dapat ditingkatkan dengan cara membentuk berbagai bentuk dari
plastisin karena cara berpikir anak usia dini (5-6 tahun) menurut Piaget 1972
dalam Slamet Suyanto (2008: 5) perkembangan kognitifnya sedang beralih dari
fase praoperasional ke fase konkret operasional. Cara berpikir konkret berpijak
pada pengalaman akan benda-benda konkret bukan berdasarkan konsep-konsep
abstrak atau pengetahuan.
Menurut Ki Hajar Dewantoro 1965
dalam Slamet Suyanto (2008: 11) mengungkapkan bahwa anak usia dini belajar
paling baik dengan “Indria” (indranya). Dengan menyentuh, meremas, memukul,
atau memegang plastisin anak akan bisa membuat berbagai bentuk sesuai dengan
imajinasinya ataupun bentuk-bentuk yang sering anak jumpai dalam kehidupan
sehari-hari.
II.2 Kajian
Penelitian yang Relevan
Penelitian Siti Rochayah (2012)
Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Metode Bermain Plastisin pada Siswa
Kelompok B TK Masyithoh 02 Kawunganten Cilacap Semester Genap Tahun Pelajaran
2011/2012 dapat dilihat pada kenaikan frekuensi dan persentase yang terjadi
pada kondisi awal dari 23 siswa yang kreatif hanya 3 anak (13%), pada siklus I
meningkat jadi 14 anak (61%) dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 21 anak
(90%), dapat disimpulkan bahwa penelitian tersebut berhasil dengan baik.
Penelitian Leni Mushonifah (2013)
Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini melalui Bermain Plastisin di RA Khoirul
Ummah dapat dilihat pada kenaikan frekuensi persentase yang terjadi pada
kondisi awal dari 22 siswa yang kreatif hanya 10 siswa (45%). Pada siklus I
meningkat jadi 14 siswa (60%) dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 18
siswa (80%). Dapat disimpulkan bahwa penelitian tersebut berhasil dengan baik.
Penelitian Riswanti (2014)
Meningkatkan Kreativitas Membentuk Melalui Bermain Plastisin pada Anak Kelompok
B di TK Thawalib Lubuklinggau dapat dilihat terjadinya peningkatan frekuensi
persentase yang terjadi dari 20 anak pada siklus I yang kreatif ada 12 anak
(60%) kemudian pada siklus II meningkat menjadi 17 anak (85%). Dapat disimpulkan
bahwa penelitian tersebut berhasil dengan baik.
II.3 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka hipotesis yang kami buat dalam penelitian ini adalah
media bermain plastisin dapat meningkatkan kreativitas anak usia dini di
kelompok bermain desa Cikaret, Bogor, Jawa Barat.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Desain Penelitian
Pada penelitian ini
peneliti akan meneliti kelompok bermain anak usia dini di desa Cikaret, Bogor
Selatan, Jawa Barat dengan desain penelitian menggunakan metode eksperiment
dengan desain pre-eksperiment one grup
pretest posttest yaitu adanya pretest sebelum diberikan perlakuan, dengan
demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat karena dalam penelitian
ini dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan (Sugiyono,
2009)
III.2 Ruang Lingkup Penelitian
III.2.1 Subjek
Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik di
kelompok bermain anak usia dini di desa Cikaret, Bogor, Jawa Barat yang
berjumlah 13 anak dengan rentang usia berkisar 4-6 tahun.
III.2.2 Lokasi dan
Waktu Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di Jl. Kapten Yusuf Gang Kesadaran RT. 002 RW. 02 desa Cikaret,
Bogor Selatan, Jawa Barat yang dilaksanakan pada hari Minggu, 14 Juni 2015.
III.3 Data dan Sumber
Data
III.3.1 Data
Mendapatkan informasi
data penelitian langsung dari anak usia dini untuk menghasilkan data
kreativitas anak-anak dalam bermain plastisin.
III.3.2 Sumber
Data
Peristiwa
yang dialami kelompok bermain anak usia dini dapat dijadikan sumber data dalam
penelitian ini adalah proses bermain dalam upaya mengembangkan kreativitas anak
usia dini melalui bermain plastisin.
III.4 Teknik Pengumpulan Data
Untuk
menjawab pertanyaan penelitian, data diperoleh melalui observasi, studi pustaka
dan studi dokumentasi. Peneliti mengamati aktivitas anak usia dini pada saat
melakukan kegiatan membentuk plastisin yang berlangsung dari awal sampai dengan
akhir dan peneliti mencatat hasil kegiatan untuk mengetahui perkembangan
kreativitas anak melalui bermain plastisin. Tak lupa peneliti mendokumentasikan
segala kegiatan dalam penelitian ini. Peneliti juga memperoleh data dari sumber
literature yang ada kaitannya dengan penelitian kami yaitu dengan berbagai
buku, jurnal-jurnal dan skripsi.
III.5 Teknik Analisis
Data
Analisis data dalam penelitian ini
menggunakan teknik analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu
penelitian yang tidak terfokus pada angka tapi pada gambaran kejadian yang
berlangsung. Menurut Arikunto (2008: 131) menyatakan bahwa penelitian tidak
menitik beratkan pada angka-angka tetapi pada upaya untuk memberikan gambaran
atas fenomena yang sedang berlangsung. Analisis kualitatif pada penelitian ini
merupakan metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta
yang sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui
kreativitas pada anak usia dini.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Penelitian
Permainan plastisin sebelum
penelitian dilakukan, kurang diminati oleh kelompok bermain anak usia dini di
desa Cikaret. Dalam pengamatan kami, anak usia dini di desa Cikaret lebih
senang bermain gadget dibandingkan
bermain lilin plastisin. Hal ini terlihat ketika kami memberikan satu warna
lilin plastisin di hadapan mereka, mereka terlihat bingung seolah tidak
mempunyai ide untuk membentuk lilin tersebut. Kemudian kami mengambil tindakan
lanjut yaitu memberikan lilin kedua yang berbeda warna kepada kelompok anak bermain
usia dini di desa Cikaret. Ketika mengerjakan plastisin dua warna tersebut,
masih banyak anak usia dini yang melihat serta mencontoh punya temannya. Mereka
tidak punya keberanian bahkan tidak mau mencoba membentuk bentuk lain untuk
menuangkan imajinasinya dalam bermain plastisin. Kami sangat menyayangkan
keadaan ini.
Selanjutnya,
kami menambahkan kembali satu warna kepada kelompok bermain anak usia dini
tersebut. Di sini lah terlihat perbedaannya. Ketika anak usia dini menerima
tiga warna, sebagian besar dari mereka lebih bisa mengeksplor ide kreatif yang
mereka punya dan menuangkannya ke dalam lilin plastisin. Mereka terlihat lebih
santai dan tidak takut lagi untuk bermain lilin plastisin. Bahkan, ketika kami
membebaskan mereka membentuk sesuai warna yang mereka sukai, hasil bentukan
mereka jauh lebih beragam dibandingkan dengan hasil karya yang warnanya kami
tetapkan. Warna kesukaan ternyata memberikan ketertarikan sendiri bagi anak
usia dini dalam membentuk lilin plastisin. Meskipun begitu, tetap saja masih
ada beberapa anak yang masih mencontoh dan melihat karya teman-temannya.
IV.2
Pembahasan
Hasil penelitian setelah dilakukan
analisis menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan terhadap
kreativitas anak usia dini saat membentuk plastisin dalam dua warna dengan tiga
warna. Perbedaan yang terjadi disini adalah adanya peningkatan kreativitas anak
usia dini dalam membentuk plastisin. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas anak
dapat ditingkatkan melalui metode bermain plastisin.
Dari 13 anak usia dini yang kami
teliti, ketika kami memberikan dua buah plastisin dengan warna sama, hanya dua
orang saja atau sekitar 15.38% yang berhasil membentuk plastisin dengan baik.
Sisanya sudah bisa membentuk plastisin namun masih melihat punya temannya,
masih ragu-ragu dan takut.
Sedangkan ketika kami memberikan
tiga buah plastisin dengan warna sama, ada delapan anak usia dini atau 61.53%
yang berhasil menyelesaikan dengan baik. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan
yang signifikan. Di saat ini mereka telah merasa nyaman dan asik ketika
membentuk plastisin tersebut. Bahkan kami cukup kaget ketika kami memberikan
warna bebas kepada anak usia dini tersebut, sebagian dari mereka justru semakin
asik dan bisa membentuk plastisin tersebut dengan bentuk yang baik. Berikut ini
kami sajikan dalam bentuk diagram.
Grafik IV.2.1
Peningkatan Kreativitas Kelompok Bermain Anak Usia Dini Desa Cikaret
Menurut kami, adanya perbedaan
tingkat kreativitas antara anak usia dini yang satu dengan yang lainnya
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal terkait dengan adanya potensi dalam diri, rasa keingintahuan, rasa
ingin mencoba, dan keberanian seseorang yang mengarahkan dirinya untuk menjadi
pribadi yang kreatif. Sedangkan faktor eksternal itu sendiri meliputi adanya
dukungan dari lingkungan baik itu lingkungan keluarga maupun pertemanan sebab
lingkungan juga mempengaruhi proses perkembangan kreativitas.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Dengan
demikian, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa adanya pengaruh bermain
plastisin terhadaap kreativitas anak usia dini. Hal ini dapat dilihat dengan
adanya perbedaan peningkatan kreativitas yang cukup signifikan antara
penggunaan platisin dua warna dengan tiga warna dalam bermain pada anak usia
dini. Penggunaan plastisin tiga warna memiliki peningkatan kreativitas yang
lebih tinggi daripada penggunaan plastisin dua warna. Hal ini membuktikan bahwa
kreativitas anak dapat ditingkatkan melalui bermain plastisin.
V.2 Saran
Berdasarkan penelitian di atas, maka
peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Untuk
meningkatkan kreativitas pada anak, sebaiknya anak sering diberikan waktu untuk
bermain plastisin. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
kreativitas anak akan meningkat ketika bermain plastisin. Bagi anak, sebaiknya
jangan takut untuk berekspresi saat bermain plastisin. Tuangkan saja semua
bentuk yang akan dibentuk dalam bermain plastisin.
2. Bagi
orang tua, pengetahuan ini dapat digunakan sebagai dasar dalam mendampingi dan
memotivasi anak serta memberikan sarana untuk terus berkreasi dalam mengembangkan
kreativitas anak.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,S.Suhardjono,Supardi. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
Aksara
Akbar-Hawadi, R. (2001). Psikologi Perkembangan Anak. Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak.
Jakarta: Grasindo
Hartati, Laelun. (2011). “Pengaruh Bermain Playdough
Terhadap Kreativitas Anak TK”. Jurnal
Psikologi. 4 (2), 97-111.
Hurlock, Elizabeth. (1987). Perkembangan Anak Jilid II. Jakarta: Erlangga. Alih Bahasa: dr.
Med. Meitasari Tjandrasa.
Munandar,U. (1999). Kreativitas dan Keberbakatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Munandar,U. (2012). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta
Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D.
(2002). A Child’s World: Infancy Through
Adolescence. McGraw-Hill.
Rachmawati, Y. & Kurniati, E. (2005). Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak
Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Prenada Media Group.
Rochayah, Siti. (2012). Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Metode Bermain Plastisin Pada Siswa
Kelompok B TK Masyithoh 02 Kawunganten Cilacap Semester Genap Tahun Pelajaran
2011/2012. Skripsi Sarjana dari FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto:
tidak diterbitkan.
Rohaeni, Renni. (2013). Peningkatan Kemampuan Kreativitas Anak Taman Kanak-Kanak Melalui
Pemanfaatan Media Tanah Lempung. Skripsi Sarjana dari Universitas
Pendidikan Indonesia: tidak diterbitkan.
Santrock, J.W. (2007). Perkembangan Anak: Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sari, Dynna. W.P. (2013). “Pengaruh Bermain
Plastisin Terhadap Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun Ditinjau dari Bermain Secara
Individual dan Kelompok”. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan. 2 (3),
218-225.
Scarlett, W.G., Salonius-Pasternak, S.N.D., &
Ponte, I. (2005). Children’s Play. Sage
Publications, Inc. thousans Oaks.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan “Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D”. Bandung: Alfabeta.
Supriadi, Dedi. (1994). Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK. Bandung: Alfabeta.
Tedjasaputra, M.S. (2001). Bermain, Mainan, dan Permainan untuk PAUD. Jakarta: Grasindo.
LAMPIRAN
Foto Dua Hasil Karya
Anak Usia Dini Ketika Diberikan Dua Warna
Foto Dua Hasil Karya
Anak Usia Dini Ketika Diberikan Tiga Warna
Foto Ketika Kegiatan Penelitian
Berlangsung
Foto Bersama dan Hasil
Karya Anak Usia Dini Sesuai dengan Warna yang Mereka Sukai







Tidak ada komentar:
Posting Komentar